Travelling / Ceritaku / Bingung Piilih Tempat Hiburan Eksotis? Temukan Sensasi Liburan di Kampung Cibuyutan

Bingung Piilih Tempat Hiburan Eksotis? Temukan Sensasi Liburan di Kampung Cibuyutan

Musim libur Natal 2014 dan tahun baru 2015 telah tiba. Banyak orang menyusun rencana untuk berlibur, baik ke dalam maupun luar negeri, termasuk Anda barangkali. Tetapi berlibur ke pusat-pusat keramaian bukan hal yang baru lagi dan apakah Anda bosan dengan liburan di tempat-tempat keramaian? Ada alternatif liburan dengan pemandangan alam yang indah nan eksotis, Kampung Cibuyutan.

Kampung Cibuyutan terletak di Desa Sukarasa, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor. Jarak antara Kampung Cibuyuta dengan Ibu Kota Jakarta tidaklah jauh, mungkin sekitar 60 km, namun Anda akan membutuhkan waktu perjalanan yang cukup lama, sekitar 3-4 jam. Lokasinya yang di daerah pegunungan akan memaksa Anda “sedikit lelah” untuk mencapai lokasi. Tetapi Anda tidak perlu khawatir, meskipun mendekati lokasi (sekitar 4 km menuju lokasi) kendaraan roda empat tidak dapat masuk, masih dapat dilalui oleh kendaraan roda dua.

Rahmad Zulkarnainsyah dengan latar belakang jalan menuju ke Kampung Cibuyutan

Rahmad Zulkarnainsyah dengan latar belakang jalan menuju ke Kampung Cibuyutan

Tanggal 7 Februari 2013 saya diajak seorang kawan yang merupakan konsultan pengawas dari Kementrian ESDM untuk mengawasi proyek PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang berlokasi di Kampung Cibuyutan, Desa Sukarasa, Kec. Tanjungsari, Bogor. Begitu mendengar nama lokasinya, bayangan kami Cibuyutan adalah satu kampung  yang sangat terisolasi. Kami pun browsing melalui Google Map dan Wikimapia.org. Benar sekali. Berdasarkan gambaran dari Google Map dan Wikimapia, lokasinya benar-benar terasing, jauh dari mana-mana. Walaupun demikian, semangat kami tidak patah. Ini kesempatan indah untuk berpetualang di alam bebas.

Kami yang tinggal di Kecamatan Dramaga, Bogor, berangkat jam 7 pagi menuju lokasi. Dari Terminal Bubulak kami naik angkutan minibus menuju ke Cileungsi. Perjalanan cukup lama, sekitar 3 jam. Lalu kami sambung dengan angkutan umum menuju ke Cariu.

Di dalam angkot, kami berkenalan dengan seorang gadis cantik, Nina namanya. Kami pun menanyakan lokasi Kampung Cibuyutan ini, dan ia berkata masih sangat jauh, dan harus naik angkot lagi.

Benar juga, kami naik angkota lagi jurusan Cianjur dan turun di Tanjungsari. Dari Tanjungsari kami masih naik ojek lagi menuju rumah Kepala Desa Sukarasa, untuk izin datang ke lokasi. Rp. 10.000,- per orang sampai ke rumah Kepala Desa.

Di rumah kepala desa, kami masih terkejut, sebab salah satu perangkat desa menyebutkan bahwa Kampung Cibuyutan masih sekitar 12 km, di mana sekitar 4 km lagi jalannya naik dan sulit dijangkau. Hanya orang-orang profesional saja yang dapat menjangkaunya. Tetapi ini tantangan.

Jalan Menuju Kampung Cibuyutan, Bogor

Jalan menuju Kampung Cibuyutan

Setelah memanggil tukang ojek asli dari Kampung Cibuyutan, dengan upah Rp. 30.000,- per orang, kami berangkat menuju ke lokasi. Benar juga. Jalannya naik, berbatu, dan berkelok. Tetapi hadiah indah akan Anda dapatkan dengan pemandangan di kanan kiri yang begitu indah. Jika Anda terbiasa dengan kesibukan ibukota, lalu lalang kendaran dan polusi udara, Anda akan menemukan ketentraman dan segarnya udara pegunungan. Rasa lelah yang mendera akan sirna.

Sampai di Kampung Cibuyutan, kami disambut oleh Ketua RT setempat, Bapak Engkos. Raut muka keramahan masyarakat kampung langsung kami rasakan. Beliau amat senang menerima kami.

Bercengkerama bersama warga Kampung Cibuyutan

Bercengkerama bersama warga Kampung Cibuyutan

Menjelang malam, kami pun berbincang, dan rumah Pak RT yang memiliki warung kopi bisa menjadi tempat nongkrong warga kampung. Anda akan terkesima dengan keramahan mereka. Pak RT dan warga kampung pun bercerita sejarahnya.

Sebelum jaman DI/TII, kampung ini dihuni oleh sekitar 1000 warga. Namun pihak TNI kala itu meminta seluruh penduduk kampung untuk mengungsi, kemudian dibumihanguskan, tanpa sisa. Kampung itu menjadi kampung mati. Namun, semenjak tahun 1980an, Kampung Cibuyutan kembali dihuni. Kini total penghuni Kampung Cibuyutan sekitar 350 jiwa.

Kendati tinggal di kampung antah berantah, tetapi mereka memiliki kecintaan yang luar biasa pada negeri ini. Meskipun mereka menikmati layanan pemerintah yang kurang, tetapi mereka memiliki tingkat kesyukuran yang tinggi. Setelah siang seharian bekerja di ladang, petang hari adalah sarana berinteraksi dengan warga sekitar. Bercengkerama dan berbagi cerita mengenai kegiatan yang mereka lakukan seharian. Dan jam 8 mereka pun harus bersiap menarik selimut, sebab penerangan yang menggunakan jenset swadaya akan dimatikan.

Jika Anda berkunjung ke Cibuyutan kini, Anda tidak perlu khawatir, sebab kini kampung itu telah menikmati layanan PLTS atas bantuan Kementrian ESDM. Anda juga tidak perlu bingung hendak menginap di mana, karena meskipun lokasinya di gunung, sebagian besar rumah warga cukup besar dan berdinding tembok. Mereka akan dengan senang hati menerima Anda untuk menginap.

Jika Anda suka berkemah, Anda juga dapat mendirikan tenda di dekat SD, satu-satunya SD dengan tiga ruang kelas atas bantuan Pertamina. Tetapi, Anda jangan berharap banyak akan bebas memilih makanan, sebab di sini tidak ada restoran ataupun warung makan, apalagi buka 24 jam. Lebih baik siapkan makanan dari rumah, termasuk makanan cepat saji.

Semoga Kampung Cibuyutan ini bisa menjadi referensi destinasi liburan Anda. Dan jika Anda berlibur di bulan Desember – Februari, pada bulan-bulan ini di Kampung itu sedang musim panen duren.

Selamat berlibur.

Ilustrasi: Koleksi pribadi.

Penulis: Lintang Sunu

Foto Profil dari Lintang Sunu
Seorang Financial Service Consultant di sebuah perusahaan asuransi swasta terbesar di Indonesia. Aktif dalam dunia blogging sejak tahun 2008 dan fokus pada masalah sosial, perencanaan keuangan, dan kritik sosial.

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

Bernostalgia di Wisata Omah Djadoel, Blitar

Kamu pernah mampir di Kota Blitar? Kota kecil yang dikenal dengan adanya ...